Showing posts with label kupipes. Show all posts
Showing posts with label kupipes. Show all posts

Monday, October 03, 2011

Mempertahankan Komitmen

  • Disaat kamu ingin melepaskan seseorang..ingatlah pada saat kamu ingin mendapatkannya
  • Disaat kamu mulai tidak mencintainya...ingatlah saat pertama kamu jatuh cinta padanya
  • Disaat kamu mulai bosan dengannya...ingatlah selalu saat terindah bersamanya
  • Disaat kamu ingin menduakannya...bayangkan jika dia selalu setia
  • Saat kamu ingin membohonginya...ingatlah disaat dia jujur padamu
  • Maka kamu akan merasakan arti dia untukmu. Jangan sampai disaat dia sudah tidak disisimu, Kamu baru menyadari semua arti dirinya untukmu
  • Yang indah hanya sementara
  • Yang abadi adalah kenangan
  • Yang ikhlas hanya dari hati
  • Yang tulus hanya dari sanubari
  • Tidak mudah mencari yang hilang
  • Tidak mudah mengejar impian
  • Namun yg lebih susah mempertahankan yg ada. Karena walaupun tergenggam bisa terlepas juga
  • Ingatlah pada pepatah, "Jika kamu tidak memiliki apa yang kamu sukai, maka sukailah apa yang kamu miliki saat ini"
  • Belajar menerima apa adanya dan berpikir positif....
  • Hidup bagaikan mimpi, seindah apapun, begitu bangun semuanya sirna tak berbekas
  • Rumah mewah bagai istana, harta benda yang tak terhitung, kedudukan, dan jabatan yg luar biasa, namun... Ketika nafas terakhir tiba, sebatang jarum pun tak bisa dibawa pergi. Sehelai benang pun tak bisa dimiliki
  • Apalagi yang mau diperebutkan
  • Apalagi yang mau disombongkan
  • Maka jalanilah hidup ini dengan keinsafan nurani;)
  • Jgn hanya mau menang sendiri>=)
  • Jangan suka sakiti sesama apalagi terhadap mereka yang berjasa bagi kita
  • Belajarlah tiada hari tanpa kasih<3
  • Selalu berlapang dada dan mengalah:)
  • Hidup ceria=)) , bebas leluasa...({})
  • Tak ada yang tak bisa di ikhlaskan....O:)
  • Tak ada sakit hati yang tak bisa dimaafkan..:&
  • Tak ada dendam yang tak bisa terhapus..

Sunday, February 22, 2009

Laki-laki Sejati

  • Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya.
  • Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran.
  • Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada sesama manusia.
  • Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati ditempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati didalam rumah.
  • Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan.
  • Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu.
  • Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari banyaknya wanita yang memuja, tetapi komitmennya terhadap wanita yang dicintainya.
  • Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan.
  • Laki-laki Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca kitab suci, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca.
Sumber: Milis sebelah

Sunday, January 18, 2009

Susah menjadi Wanita

Banyak wanita yang bilang bahwa susah menjadi wanita, lihat saja aturan-aturan dibawah ini:

  1. Wanita auratnya lebih susah dijaga dibanding lelaki.
  2. Wanita perlu minta ijin dari suami apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
  3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
  4. Wanita menerima warisan lebih sedikit dari pada lelaki.
  5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
  6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada istrinya.
  7. Talak terletak di tangan suami dan bukan istri.
  8. Wanita kurang nyaman dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas.
  9. dan lain-lain.

Tetapi... Pernahkan kita perhatikan:

  1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti itulah intan permata bandingannya dengan seorang wanita.
  2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada Ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada Bapaknya?
  3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah bahwa harta itu akan menjadi miliknya dan tidak perlu diserahkan kepada suami? Sementara suami apabila menerima warisan ia wajib juga menggunakan hartanya untuk istri dan anak-anaknya?
  4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala mahluk, malaikat dan seluruh mahluk Allah dimuka bumi ini, dan tahukah jika ia meninggal karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.
  5. Diakherat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita, yaitu: Istrinya, Ibunya, Anak Perempuannya dan Saudara Perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu: suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.
  6. Seorang Wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui pintu mana saja yang disukainya cukup dengan 4 Syarat saja, yaitu : Sholat 5 waktu, Puasa di bulan Ramadhan, taat kepada Suaminya dan menjaga Kehormatannya.
  7. Seorang lelaki wajib berjihad di jalan Allah, sementara bagi wanita jika taat kepada suami serta menunaikan tanggung jawabnya kepada ALLAH SWT, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad di jalan Allah tanpa perlu mengangkat senjata.

Demikian sayangnya ALLAH SWT kepada wanita... Yakinlah bahwa sebagai Dzat yang Maha Pencipta sudah pasti ALLAH Maha Tahu akan segala yang diciptakan-Nya sehingga peraturan-Nya adalah yang terbaik bagi manusia.

Sumber: Milis sebelah

Tuesday, March 06, 2007

Kita Kan Laki-laki...

Oleh: Sinang Bulawan

Saya hari ini sengaja tidak bawa mobil, berhubung selesai jam kantor akan rapat organisasi sampai malam di daerah Rasuna Said. Di gedung Sentra Mulia, didepan kedutaan Australia. Kalau sudah lewat jam lima sore merupakan biangnya macet karena seluruh mobil pribadi akan lari ke situ berhubung menghindari three in one, baik di jalan Thamrin maupun Gatot Subroto.

Orangnya masih muda, memakai pakaian seragam sopir berwarna putih degan strip merah memanjang di bahu baju. Pembawaannya juga kalem, dan cara mengemudikan mobil juga sudah terlatih. Sopir taxi Primajasa.

Jarang memang taxi ini, yang sering banyak dijalan taxi Blue Bird. Dan sayapun selama ini mengenal Primajasa hanya sebagai bus antarkota. Tapi sudahlah, yang penting sekarang saya duduk enak, ACnya dingin walaupun jalan macet.

Enak juga kalau begini terus-terusan disopirin orang. Dari pada nyopir sendiri. Capek, stress dan jengkel dengan situasi jalan di Jakarta pindah ke sopir. Saya jadi bisa tidur-tiduran sambil lihat gedung-gedung atau ngerumpi dengan temen melalui HP.

"Sudah lama naxi mas?".
"Baru lima tahun".
"Baru lima tahun?"
"Ya pak, emangnya kenapa?"
"Berarti masih mau terus jadi supir taxi?"
"Ya gitulah pak, susah cari kerja lain. Di kampung juga ndak ada pekerjaan yang menarik pak. Paling motong padi kalau lagi panen. Itupun cuma seminggu dua minggu. Bayarannya murah. Ndak cukup untuk makan keluarga. Sudah itu nganggur lagi".
"Memang mas tamatan apa?".
"SMA pak".
"Nggak ada dulu niatan kuliah?".
"Tamat SMA aja syukur pak. Habis orang tua cuma buruh petani".
"Sudah berkeluarga mas?".
"Sudah, anak dua. Di Semarang. Isteri jaga anak saja di rumah".
"Lho pulangnya berapa hari sekali?"
"Ndak tentu pak, kadang sebulan sekali. Ya kadang kalau ndak banyak uang cuma dua bulan sekali. Uang kiriman saya titipin temen yang pulang kampung. Sama-sama sopir juga".
"Nggak kangen kalau sampe dua bulan?".
"Siapa yang ndak kangen pak. Ya kangen tho".
"Ngirim duitnya berapa mas?".
"Rata-rata sih lima ratus rebu".
"Cukup itu mas?".
"Ya dicukup-cukupin pak. Isteri saya dikampung ndak macem-macem".
"Setoran taxi ini memangnya berapa mas?"
"Sehari dua ratus ribu, ndak termasuk bensin. Kalau sama bensin ya nambah sekitar 120 rebu lagi".
"Kalau gitu tiap hari pulang bawa banyak uang mas?".
"Ndak juga. Kalau lima puluh ribu sih dapet. Tapi hari ini dari pagi sampe sekarang baru ngumpul 140 rebu. Mulai pagi jam tujuh. Ntah nanti pulang jam dua belas malem, bisa ndak ngumpul setoran. Kalau ndak ya potong setoran dulu dua puluh rebu. Buat makan. Besok kalau setoran lebih baru dilunasi".
"Lho kalau gitu buat apa nyopir. Kalau nggak dapat setoran pulang nggak bawa duit. Mending di rumah, nggak usah kerja, nggak capek. Kan sama nggak dapat duit".
"Tapi kalau di rumah, makannya dari mana pak?. Kalau naxi kan kita masih ada harapan besok dapet duit. Kalau di rumah ya dimarahin bini".
"Bener juga, ya".
"Iya pak. Kita kan laki-laki, kepala keluarga. Harus kerja. Susah dan seneng kita harus lakonin. Saya sih yakin saja pak sama yang Di Atas. Buktinya lima tahun, saya masih bisa ngirim duit tiap bulan".
"Oh ya Mas.. siapa namanya?".
"Mursidi pak".

Benar juga, sebagai laki-laki dan sebagai kepala keluarga memang kita diwajibkan untuk bekerja. Saya jadi ingat, sewaktu ijab kabul dulu mengucapkan sighat ta'lik yang salah satunya berbunyi bila sewaktu-waktu saya tidak memberi nafkah wajib kepada isteri tiga bulan lamanya maka isteri saya berhak menuntut ke pengadilan agama.

"Terus saja pak. Nanti di gapura itu kita masuk".
Akhirnya saya sampai di rumah. Argo menunjukkan Rp 93.000,-.
"Nih Mas, sisanya ambil saja untuk nambah-nambah lauk makan malam"; saya sodorkan lembaran seratus ribu rupiah.
"Terima kasih pak, mudah-mudahan diganti rejeki yang lebih banyak".
"Amin, amin".

Isteri saya membukakan pintu. Dia Insinyur, sama dengan saya. Tetapi sejak tamat sampai sekarang, sudah 22 tahun tidak bekerja. Dia jaga anak saja di rumah. Saya tidak melarangnya untuk berkerja. Hanya dia sendiri yang inginnya di rumah. Saya sendiri yang selama ini bekerja. Dan alhamdulillah tercukupi.

"Kita kan laki-laki, kepala keluarga. Harus bekerja".

Terima kasih Pak Mursidi. Mudah-mudahan engkau tetap istiqomah dengan pendirianmu.

Saturday, July 01, 2006

Tuhan Sembilan Senti

Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok.

Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil e’-ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.